Seorang ibu dari Filipina yang bersuamikan orang Jepang, curhat kepada saya sambil menemani anak-anak yang main di taman. Ibu ini bilang kalau dia dan anaknya, yang usianya 6 tahun, kerap kali bertengkar. Perkaranya? soal bahasa yang digunakan si ibu kepada si anak.

Lalu dia bercerita, bahwa beberapa bulan ini dia mengganti bahasa ke anaknya dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris. Dengan harapan, si ibu bisa lebih banyak berkomunikasi dengan anak dengan lebih luas. Si anak tentu saja marah-marah, karena tiba-tiba si ibu mengganti bahasa sehari-hari mereka. Bahkan si anak bilang, kalau di Jepang yang bicaranya bahasa Jepang, Ibu kan bisa Bahasa Jepang, begitu si anak bilang ke ibunya.

Untungnya sehari sebelumnya saya ikut diskusi bersama narasumber ahli bahasa dan beberapa orangtua mengenai dua bahasa ini. Dan ada beberapa pertanyaan yang diajukan, hampir sama dengan yang dikeluhkan si ibu tadi. Ketika ibu ingin mengganti bahasa sehari-hari ke anaknya, yang umur dua tahun…. Si anak marah.

Saya juga baru paham, bahwa anak akan marah kalau ibu mengganti bahasa yang digunakan sehari-hari. Marah ini ada berbagai bentuknya, bisa diam sampai abai. Karena bahasa pertama yang digunakan ibu kepada anak adalah emotional language, yang membuat anak merasa nyaman dengan si ibu.

Lalu bagaimana proses transisinya? mengenalkan bahasa yang lain tanpa mengganti bahasa pertama si anak dengan si ibu. Beberapa yang diusulkan narasumber saat diskusi adalah dengan membuat Family Language Plan, yang bisa dibagi misalnya, bahasa dengan orang tua atau keluarga, bahasa dengan komunitas, bahasa akademis. Tentu saja proses ini dilakukan dengan rutin dan berkelanjutan. Selanjutnya bisa juga dengan membuat jadwal, misalnya Hari Senin berbahasa Indonesia, Selasa- Bahasa Inggris, Rabu- Bahasa Jepang, seperti itu.

Untuk model seperti ganti hari ganti bahasa ini, saya memiliki kenalan yang mengaplikasikan kepada putranya. Ibunya orang Spanyol, ayah Finlandia, komunikasi dengan Bahasa Inggris dan tinggal di Jepang. Si anak? sampai di usianya yang hampir 5 tahun, dia bisa dan mengerti kapan harus berbicara bahasa apa dengan siapa. Saya tanya, mulai umur berapa dia mulai mengajarkan ini? si ibu menjawabnya, saat usia anaknya 3 bulan, bertahap, dimulai dari bahasa si ibu.

Tapi jangan khawatir, ibu ahli bahasa yang menjadi narasumber dalam diskusi mengenai anak dengan dua bahasa (atau lebih) menenangkan saya, tidak ada kata terlambat, yang penting anda punya perencanaan dan jadwalnya, dan tentu saja lakukan itu secara rutin.

Kontributor: Sofia Kartika

Blogger yang kini tinggal di Tokyo

Share this:

Menu Title