Wajahnya mungkin tidak lagi asing untuk anda yang sering mengunjungi RSPAD Gatot Soebroto.  Dina, panggilan akrab Diana Chaidir, adalah seorang dokter umum di Departemen Anak RSPAD Gatot Soebroto. Dalam satu bulan,, ia harus menjalankan dinas jaga malam sebanyak empat sampai enam kali. Jika dibandingkan dengan saat ia baru bertugas, jadwal jaga malam Dina saat ini sudah lebih sedikit. Dina juga sering mendapatkan jadwal jaga saat akhir pekan namun ia merasa lebih letih melakukan aktivitasnya di luar akhir pekan. Jika ia harus bertugas di hari kerja, maka ia akan memulai pekerjaannya pada pukul 8 pagi dan pulang keesokan harinya yakni pukul 3.30 sore. Total jam kerja yang harus dijalani Dina dalam satu kali tugas jaga adalah sekitar 30 jam.

Kondisi fisiknya cukup letih, namun ia tetap harus tersenyum dan bersikap profesional dalam melayani setiap pasien yang datang. Meskipun Dina masih tinggal dengan orangtuanya, ia tetap mempekerjakan baby sitter untuk membantunya mengurus kedua anaknya. Anaknya yang pertama sudah berusia 4 tahun dan anak kedua kini berusia 1 tahun 9 bulan. Dina sangat bersyukur menemukan baby sitter yang sangat sayang kepada kedua anaknya dan tentu saja dapat dipercaya. Untuk memastikan bahwa setiap anak terawasi dengan baik, Dina pun mempekerjakan satu baby sitter untuk setiap anaknya. Otomatis, pengeluaran bulanan mereka meningkat sehingga Dina dan suami harus bekerja lebih keras untuk membiayai kehidupan mereka.

Berperan ganda tentu saja sangat melelahkan untuk Dina. Pagi menjadi dokter umum dan sore menjadi guru piano. Dina, yang rupanya adalah lulusan sekolah musik YPM Judisium A,  juga ingin mengaplikasikan ilmu musik yang telah ia pelajari selama 13 tahun. Ia pun mencoba melakukan semua pekerjaannya baik menjadi dokter, guru piano, ibu dan istri dengan hati yang senang. Mottonya adalah “always start your day with a smile”.   Dina harus terus menjaga profesionalitasnya dengan baik. Sebagai dokter ruangan di bagian anak, setiap harinya ia harus menghadapi pasien kecil yang memerlukan banyak perhatian. Tatkala menemukan pasien anak yang rewel ditambah orangtua pasien yang panik, ia pun harus mengeluarkan sejumlah jurus agar tetap terlihat tenang dan jangan sampai membawa masalah rumah ke pekerjaannya.

Beban terberat Dina adalah ketika anaknya sedang sakit, ia pun sangat tidak tega melangkahkan kaki ke kantor. Apalagi jika sang anak tidak mau makan, mengambek dan menangis agar diperbolehkan untuk ikut ke kantornya. Pikiran Dina bisa sangat bercabang. Tentu saja ia tetap harus bekerja dan tidak mungkin untuk membawa anaknya ke rumah sakit yang melarang anak (kecuali pasien) di bawah 12 tahun untuk berkeliaran di ruangan RS. Ia pun terus memantau kondisi anak via sang babysitternya. Ia mengontrol menu makanan, jadwal obat dan lain-lainnya. Lagi-lagi ia sangat bersyukur menemukan baby sitter yang sangat kooperatif dan komunikatif.

Seharian bekerja, pulang terkadang sore atau malam, bahkan terkadang tidak pulang telah membuat Dina hampir tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Sepulang kerja, ia ingin langsung pulang agar bisa bertemu dan bermain dengan kedua anaknya. Ia pun sangat bersyukur saat pulang kerja, kedua buah hatinya selalu menyambut kedatangannya dengan senyum yang hangat. Ia mengakui bahwa pelukan dan ciuman sang anak dapat membuat rasa capeknya hilang. Jika ia sedang “down” karena sesuatu masalah, ia segera sharing ke sang suami. Untunglah sang suami juga sangat kooperatif dan memahami perasaan Dina. Ia juga akan mencari secuil waktu dari waktu luangnya yang tidak banyak untuk pergi ke salon, nonton bioskop, refleksi, wisata kuliner dan memanjakan diri sendiri.

Dina sendiri tidak menerapkan konsep parenting khusus, namun ia banyak mendengar masukan dan belajar dari orangtua, teman dan buku psikologi anak. Menurut Dina, hal yang terpenting adalah menerapkan konsep satu suara dengan sang suami dan baby sitternya. Ia dan suami juga terkadang menerapkan metode good cop bad cop. Jika sang anak berbuat salah atau hal yang tidak baik, maka suaminya akan berperan sebagai bad cop yang menegur sang anak. Sedangkan Dina berperan sebagai good cop, yang bertugas menasehati dengan nada yang lebih lembut. Ia membiasakan untuk mencium dan memeluk kedua anaknya dan memberi tahu mereka mengenai profesi dan mengapa mereka harus bekerja ke luar rumah. Ia juga menekankan sopan santun sehingga anak sedari kecil sudah biasa untuk mencium tangan kedua orangtuanya. Pulang kerja, Dina dan suami selalu memeluk dan mencium kedua buah hatinya. Mereka selalu menyampaikan pesan bahwa mereka sangat mencintai kedua anaknya.

Dina selalu berusaha untuk memegang kedua anaknya sendiri saat ia sedang berada di rumah. Jika ia sedang tidak berdinas malam maka ia pun tidur dengan kedua anaknya dan membiarkan sang baby sitter lepas dari tugasnya. Saat akhir pekan dan ia libur maka Dina akan mengajak kedua anaknya untuk jalan bersama entah ke taman bermain atau mall. Jalan bersama di akhir pekan adalah hal yang sangat mewah untuk keluarga kecilnya. Suaminya juga berprofesi sebagai dokter dan akhir pekan belum tentu bisa mendapatkan libur.

Dari pengalaman pribadinya, Dina pun memberikan beberapa tips kepada para ibu yang harus berkarir di luar rumah.

  1. Tetap pantau kegiatan si kecil, jangan serahkan semua urusan pengasuhan ke baby sitter.
  2. Tetap mengusahakan akhir pekan sebagai hari keluarga, dan anda sepenuhnya mendedikasikan diri untuk anak.
  3. Untuk anak yang sudah lebih besar, saat anda pulang maka sempatkan untuk bertanya mengenai kegiatannya hari ini.
  4. Selalu peluk dan cium anak anda supaya mereka tahu bahwa anda sangat menyayangi mereka dan yang anda lakukan adalah untuk masa depan mereka.
  5. Carilah pengasuh yang baik dan terpercaya agar anda tidak resah saat harus meninggalkan anak.
  6. Jika anda menggunakan jasa pengasuh, jangan lupa untuk memperlakukan mereka dengan baik dan berikan ekstra perhatian karena mereka telah membantu untuk mengasuh anak kesayangan anda.

Dina pun tak lupa berpesan untuk ibu yang beraktivitas di rumah, “tetap bersyukur jika anda bisa stay di rumah dan tidak harus mencari nafkah di luar rumah karena merupakan kenikmatan yang sangat besar apabila kita sebagai orangtua bisa melihat tumbuh kembang anak kita tanpa dibatasi oleh waktu”.

Share this:
Menu Title