Takumashii kodomo yang bisa diterjermahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Resilience Kids menjadi sebuah isu tersendiri di negeri sakura. Dengan ritme kerja yang keras dan semua yang serba dinamis, anak-anak di Jepang dituntut untuk memiliki mental yang kuat tatkala ia dewasa. Namun, akhir-akhir ini, para orangtua muda di Jepang rupanya banyak yang menerapkan pola pengasuhan yang lebih santai. Anak adalah raja dan semua yang mereka inginkan akan diberikan. Para pemerhati pendidikan dan tumbuh kembang anak pun menunjukkan kekhawatirannya. Beberapa laporan dari komisi pendidikan menunjukkan kasus anak-anak sekolah dasar yang tidak mau ikut aturan di dalam kelas dan bertingkah semaunya. Anak-anak ini pun membela diri bahwa selama ini orangtuanya selalu memperbolehkan semua keinginannya. Mereka boleh menjalani hidup sesuai kehendak mereka jadi mengapa mereka harus mengikuti aturan sekolah? Setelah diadakan penelitian lebih lanjut ternyata para orangtuanya memang *lembek* terhadap anaknya. Sang anak terlalu dimanja dan tidak diperbolehkan untuk merasakan penderitaan apapun. Jika jaman dulu orang Jepang mengakhiri hidupnya untuk bertanggung jawab atas sebuah masalah atau kekalahan besar, anak-anak zaman sekarang justru dengan mudah mengambil keputusan bunuh diri atas alasan yang lebih sepele. Para pemerhati pendidikan pun mulai giat menghubungi komunitas para orangtua dan mengingatkan mereka akan pentingnya mendidik takumashii kodomo.

Menurut para pemerhati tumbuh kembang anak di Jepang, para orangtua terlalu berusaha membuat anak-anak hidup dalam kondisi yang nyaman. Banyak orangtua tidak mau membiarkan anak untuk melewati rasa pedih atau kesulitan yang pernah mereka alami. Padahal dalam kenyataannya para anak akan tumbuh besar dan mereka harus menghadapi berbagai perubahan, kekalahan dan juga kekecewaan. Tugas terpenting orangtua bukanlah untuk berada setiap saat di sisi sang anak. Namun, orangtua harus membekali dan mengajarkan anak bagaimana untuk menangani berbagai kondisi tidak menyenangkan dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Oleh karena itu orangtua juga perlu berubah. Mereka harus menjadi orang pertama yang memberikan kesempatan bagi anak untuk menguatkan mentalnya.

Berikut ini ada beberapa tips yang bisa diadopsi untuk mendidik anak yang kuat secara mental adalah,

Tidak memenuhi semua keinginan anak

Anak perlu tahu bagaimana di dunia ini tidak semua keinginannya bisa terpenuhi. Oleh karena itu ia perlu menyiapkan mental jika ada dari keinginannya yang tidak terpenuhi. Orangtua harus tegas dalam hal ini, karena ini akan mempengaruhi karakter anak saat dewasa nanti.

Jangan membuat lingkungan anak terlalu bebas dari resiko.

Memberikan anak kebebasan yang sesuai umur akan membantunya mempelajari batasan dirinya sendiri. Anak juga akan belajar mana yang bahaya dan mana yang aman bagi dirinya. Orangtua jangan membuat lingkungan anak terlalu steril. Komunikasikan mana yang bisa mereka lakukan dan mana yang tidak bisa mereka lakukan.

Ajarkan anak untuk menyelesaikan masalah dan menguasai kemampuan yang diperlukan.

Libatkan mereka untuk mengenali metode untuk menyelesaikan apa yang bisa membantu dan tidak bisa membantu penyelesaian masalahnya. Simulasikan berbagai kondisi dan beritahu anak mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan dan kemampuan yang mereka butuhkan.

Daripada bertanya kenapa, coba bertanya bagaimana?

Jika anak anda melakukan kesalahan, jangan menegurnya dengan pertanyaan kenapa kamu melakukan itu. Akan lebih baik jika anda menegur, bagaimana kamu menyelesaikan kesalahan yang telah kamu perbuat?

Jangan menyediakan semua jawaban.

Orangtua perlu mengarahkan anak untuk mencari tahu jawaban akan hal yang tidak ia ketahui atau masalah yang ia sedang ia hadapi. Ajak anak untuk berpikir dan mencari tahu mengenai hal tersebut.

Membiarkan anak untuk melakukan kesalahan.

Kegagalan bukanlah akhir dari dunia. Itu adalah tahap dimana seseorang harus mencari tahu apa yang perlu ia lakukan berikutnya. Membiarkan anak untuk menghadapi kegagalannya memang terkadang menyakitkan untuk dilihat. Namun hal ini akan membuatnya belajar bagaimana untuk mengoreksi keadaan dan membuat keputusan yang lebih baik di lain waktu.

Ajarkan mereka untuk memanajemen emosinya.

Sampaikan pada anak bahwa mereka boleh merasa marah dan kesal akan ketidakadilan yang terjadi. Jika mereka tantrum, maka orangtua harus tetap menekankan perilaku mana yang bisa ditolerir dan mana yang tidak. Anda boleh menegur anak dan jangan sampai tantrum sang anak mengganggu orang sekitarnya di luar batas kewajaran.

Berikan teladan

Tentu saja sebelum mengajarkan anak mengenai cara mengatasi emosi, anda juga harus menunjukkan sikap teladan. Anda juga harus memberikan teladan dalam berbagai hal seperti bersikap toleran, menghargai dan memaafkan orang lain.  Jika anda melakukan kesalahan, akui dan katakana pada anak bahwa berikutnya anda akan mencoba bersikap lebih baik.

Mendidik anak adalah proses yang tidak langsung jadi dalam semalam. Setiap orangtua mengalami jatuh bangun namun anda perlu secara jantan mengakui jika anda melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya di kemudian hari.

Materi diambil dari Seminar Takumashii Kodomo, Oktober 2015.

Share this:

Menu Title