Setelah sekian lama, Intan Windyasari akhirnya dapat mewujudkan impian lamanya untuk melanjutkan studi sampai jenjang S3. Sejak menikah, ia terus merantau untuk menemani sang suami yang menuntut ilmu di Kota Tokyo, Jepang serta Kota Groningen, Belanda. Sebulan setelah ia tiba di Tokyo, ia pun hamil anak pertama. Ia pun berencana untuk melanjutkan sekolah setelah kelahiran anak pertamanya namun ternyata 5 bulan setelah melahirkan si sulung, ia pun hamil anak keduanya. Tak lama kemudian, sang suami mendapatkan kesempatan untuk studi ke Belanda dan mereka sekeluarga pun memulai perantauannya di benua Eropa.

Sang suami pun menawarkannya untuk melanjutkan studi, namun ia pun urung karena kedua anaknya masih terlalu kecil. Jika ia melanjutkan studi di jurusan Kimia maka ia akan banyak menghabiskan waktu di laboratorium untuk mengerjakan eksperimen. Ia sungguh tidak tega jika harus sering meninggalkan kedua buah hatinya yang saat itu masih terlalu kecil. Tak habis cara, sang suami pun menyarankan ia untuk mengambil kuliah online namun Intan tidak ingin mengambil kuliah di bidang yang tidak ia sukai. Selama tiga setengah tahun hidup di Kota Groningen, ia pun menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga. Setiap hari, ia  bertugas mengantar jemput sekolah kedua buah hatinya. Selama anak-anak sekolah, ia berbelanja keperluan catering. Untuk mengisi waktunya, ia menerima orderan catering untuk mahasiswa Indonesia di kota tersebut. Pada awalnya ia tidak suka memasak namun berada jauh dari tanah air telah mendorong Intan untuk belajar memasak. Ia pun akhirnya menikmati hobi barunya. Ia juga belajar membuat kue dan banyak teman-teman mahasiswa yang memesan kue ulang tahun untuk dibawa ke universitas. Sang suami sangat mendukung Intan untuk belajar apapun, termasuk memasak dan memanggang kue. Selama berada di Kota Groningen, Intan memang tidak mendapatkan kesempatan belajar di kampus namun ia justru mendapatkan peluang untuk memperdalam ilmu memasak dan membuat kue, dan bonusnya ia pun mendapatkan sejumlah euro.

Tahun 2011 ia pun kembali ke tanah air. Dua bulan sebelum kembali ke Indonesia, ia melahirkan anak ke tiganya di Kota Groningen. Sejak kembali ke tanah air, ia hidup terpisah dengan sang suami karena sang suami mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian pos doktoral di Singapura. Saat itu ia sudah jenuh dengan aktivitas mengantar jemput anak ke sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menjaga si kecil yang masih balita. Ia mengakui bahwa pekerjaan rumah tangga itu berat, apalagi ia tidak memiliki asisten rumah tangga namun di dalam hati ia tidak puas. Setiap ia menyalakan TV, yang ia lihat hanya infotainment. Ia pun hanya mengurus sang suami apabila sang suami pulang ke Bandung. Bosan dengan kehidupan yang monoton, ia pun terpikir untuk melakukan hal lainnya. Namun ia tidak ingin bekerja di institusi atau perusahaan.

Pada saat itulah, sang suami menyarankan ia untuk melanjutkan program master di ITB untuk mengusir rasa bosan dan melakukan sesuatu yang disukai Intan. Pada awalnya ia tidak percaya diri karena sudah sepuluh 10 tahun ia tidak berurusan dengan kimia. Selama 8 tahun ia hanya berkutat dengan urusan masak memasak, membereskan rumah dan mengurus anak. Rasanya berat bagi Intan untuk kembali ke kampus dan mengingat pelajaran kimia. Namun sang suami selalu memberikan semangat dan meyakinkan Intan bahwa ia bisa.Saat semangat belajarnya muncul, ia kembali ragu karena memikirkan ketiga anaknya. Apakah ia bisa membagi waktu sebagai mahasiswa dan ibu? Berkat dukungan dari sang suami, ia pun mencoba melanjutkan studinya ke jenjang master.

Meskipun ia tahu bahwa tugas utamanya adalah sebagai seorang istri dan ibu dari ketiga anaknya namun ia tidak ingin menjadikan aktivitas kampusnya sebagai “basa basi”. Sekolah adalah “me time” tersendiri untuk Intan namun di sisi lain ia juga harus membuktikan bahwa ia sanggup bersekolah tanpa mengorbankan tugas utamanya. Selama dua tahun, ia bangun sangat pagi untuk membereskan rumah, menyiapkan sarapan dan bekal untuk para buah hatinya. Tahun pertama cukup berat baginya karena Intan harus mengambil banyak mata kuliah. Jika ia harus kuliah jam 7 pagi maka ia akan meminta bantuan orang kepercayaannya untuk mengantar jemput sang anak. Setelah kembali ke rumah, ia segera membereskan rumah, menyiapkan makanan dan mencuci baju. Intan mengakui bahwa ia adalah orang yang sangat “freak” terhadap kerapihan. Seharian lelah berada di kampus, ia tidak bisa tahan jika rumahnya berantakan.

Pekerjaan rumah biasanya selesai pukul 8 atau 9 malam. Saat ketiga anaknya telah tidur, ia pun mengerjakan tugasnya sebagai mahasiswa. Jika ada ujian maka waktu belajarnya dimulai pukul 10 malam. Sang suami yang berada di beda negara pun selalu menemani dan berdiskusi dengannya via fasilitas facetime. Meskipun berjauhan, ia selalu ada untuk mendukung Intan dalam melewati masa sulit sebagai mahasiswa master. Intan begitu bahagia ketika ia bisa mendapatkan IPK 3.92 saat kelulusan s2. Nilai IPK tersebut ia persembahkan kepada semua yang banyak berkorban untuk kemajuan dirinya yakni ibu, ketiga anaknya dan sang suami. Ia bertekad untuk bisa lulus dengan prestasi cumlaude namun sangat disayangkan bahwa kelulusannya terlambat tiga bulan dari batas waktu yang ditentukan sehingga ia tidak dapat meraih predikat tersebut. Sang suami membesarkan hatinya, bagi sang suami, Intan adalah mahasiswa magister yang lulus dengan predikat cumlaude, and he really proud of it, alhamdulillah ia tidak mengecewakan mereka.

Intan pun melanjutkan ke program doktor, namun sekarang kondisi keseharian Intan sudah sedikit berbeda. Kedua anaknya sudah masuk SD dan si bungsu sudah bersekolah di TK. Namun, rumah mereka menjadi lebih jauh dari sekolah anak-anak dan kampus.  Agar buah hatinya tidak telat masuk sekolah, mereka harus berangkat maksimal pukul enam pagi. Ia pun harus bangun dan memulai aktivitas minimal pukul 4 pagi. Pekerjaannya yakni membereskan rumah, menyiapkan sarapan dan anak-anaknya seperti mandi dan solat subuh. Semua harus sudah beres pada pukul 5.30.  Di saat yang sama ia harus menyiapkan segala kebutuhan sebagai mahasiswa S3. Si bungsu bersekolah di dekat rumah ibunda Intan agar jika dalam keadaan emergensi, Intan bisa meminta bantuan sang ibu untuk menjaga anaknya. Dua atau tiga hari dalam seminggu, si bungsu menginap di rumah sang nenek. Jika sang bungsu menginap maka Intan pun akan membersihkan rumah sang bunda untuk memastikan bahwa ibunda dan anaknya tinggal di rumah yang bersih. Apalagi sang bunda tidak memiliki asisten rumah tangga jadi Intan pun turun tangan menjaga kebersihan rumah ibundanya.

Ia pun menganggap bahwa tantangannya lebih berat sejak kedua anaknya masuk SD. Setiap tahun pelajaran sekolah makin berat dan Intan harus memastikan bahwa mereka bisa melewati setiap level dengan baik. Ia harus mengajarkan anak-anak beberapa mata pelajaran yang tidak mereka pahami dan di saat yang sama ia juga harus mengupgrade ilmunya di kampus. Hal ini terkadang menguras emosinya.

Waktu me timenya menyempit, pada pukul 4 sore Intan harus menjemput mereka dari sekolah. Saat kembali ke rumah adalah menjelang magrib dan setelah itu ia harus total menjadi ibu rumah tangga. Intan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Sambil menyapu, ia mengawasi para buah hatinya mengerjakan PR dan belajar. Sambil mencuci piring, mulutnya berbicara pada ketiga anaknya. Sambil memasak, ia merendam cucian pakaian. Namun ia tidak bisa menyambi pekerjaan rumahtangga dengan kehidupan akademisnya karena ia memerlukan konsentrasi lebih.

Dengan sifat Intan yang agak “freak” terhadap kerapihan dan keberesihan rumah, ia berusaha menjaga rumahnya untuk tetap rapih. Menurut Intan, rumah yang nyaman adalah rumah yang rapi namun bukan berarti rumahnya tidak berantakan. Anak-anak boleh bermain tapi setelahnya harus dibereskan. Setelah memasak harus segera dibersihkan. Tidak peduli kondisi lelah, rumah harus rapi sebelum ia meninggalkan rumah ataupun sebelum tidur. Para tetangga sering mengira Intan tidak memiliki anak karena rumahnya tertata rapih. Intan menerapkan aturan, saat bermain silahkan seperti kapal pecah namun setelahnya harus dirapihkan. Anak-anak Intan pun membantunya untuk membersihkan rumah.

Intan melakukan semua pekerjaan seperti sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Semua pekerjaan dilakukan paralel, begitulah cara Intan menjalani hidup sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai mahasiswa. Almarhum ayahnya pernah berkata bahwa Intan bisa melakukan apapun selama ia bisa memanage waktu dengan baik. Tidak ada kata bahwa ia tidak ada waktu dan berjuta alasan lainnya, yang penting  adalah time management and how hard we try.

Namun sampai saat ini, ia merasa masih jauh dari yang ia harapkan. Ia masih kesulitan dalam membagi waktunya untuk keluarga dan tugas kuliah. Ia juga sadar bahwa kian hari hari buah hatinya semakin dewasa, dan dengan kondisi lingkungan jaman sekarang, peran orang tua dalam pengawasan perkembangan anak sangat penting. Ia harus harus mengurangi “me time” dan menambah porsi waktunya sebagai seorang ibu. Padahal sebagai mahasiswa doktor, ia membutuhkan totalitas konsentrasi yang tinggi dan itu tidak bisa ia dapatkan dalam waktu yang singkat.

Intan bersyukur meskipun sang suami jauh di Singapura, namun ia selalu ada saat dibutuhkan, khususnya yang berhubungan dengan urusan kuliah. Semua kebutuhan kuliah Intan akan disiapkan oleh sang suami. Jika mahasiswa lain kesulitan dalam mencari referensi jurnal internasional, Intan hanya perlu mengirimkan daftar jurnal kepada suaminya dan terkadang dalam hitungan menit ataupun jam (tergantung kesibukan suami di sana), semua referensi yang ia inginkan sudah ada di email.

Kalau dalam memasak, semua bumbu akan diberikan oleh suami sesuai dengan orderan, tinggal ia yang mengolahnya menjadi masakan. Walaupun mereka terpisah jauh, tapi kerja sama sebagai teamwork terus berjalan. Di saat mahasiswa lain hanya bisa berkonsultasi tentang kuliah di kampus, maka Intan beruntung karena memiliki suami yang bisa jadi pembimbing di rumah with unlimited time.

Intan selalu menentukan target harian, jika target itu terpenuhi maka itu akan menjadi penyemangat buatnya untuk menjalani hari berikutnya. Salah satu momen yang berkesan bagi Intan adalah ketika ia harus menyiapkan pakaian tradisional untuk keduanya anaknya dari barang bekas. Saat itu Intan sedang sibuk dengan pekerjaan kampus. Ia pun sangat stress dan tentu saja merasa bersalah jika tidak bisa membuatkan apapun untuk keduanya. Tidak adil jika Intan hanya memikirkan urusan kampus dan mengabaikan momen penting kedua anaknya. Ia pun mencari inspirasi dan mendapatkan ide untuk membuat pakaian tradisional Belanda dari tali rapia. Untunglah sang suami mudik malamnya, dan malam itu mereka membuat proyek seni. Keesokan paginya, kedua buah hatinya bisa mengikuti karnaval hari Kartini dan memakai baju buatan ia dan suami. Sungguh Tuhan akan selalu memberikan jalan di saat kita bersungguh-sungguh memohon petunjukNya.

Ada mata kuliah analisis khusus di mana Intan menjadi salah satu asistennya. Kebetulan setiap akhir perkuliahan akan ada kuliah lapangan dan salah satu kegiatannya termasuk melakukan analisis di daerah pantai. Pada saat itulah setiap tahunnya ia membawa keluarganya. Jadi setiap tahun, mereka akan berekreasi ke pantai sebagai keluarga lengkap. Walaupun setelah tiba di sana, suami yang akan menjaga ketiga buah hatinya dan ia harus bertugas kembali sebagai asisten yang melakukan analisis di pantai bersama para mahasiswa lain.

Sebagai manusia, ia juga pernah berada dalam keadaan terpuruk. Ia pernah menangis di depan kepala sekolah sang anak. Setelah berkonsultasi panjang lebar disimpulkan bahwa anaknya dalam kondisi baik dan ialah yang harus berubah. Ia disarankan untuk melepas sekolahnya dan fokus mengurus anak. Pada saat itu Intan merasa bersalah sampai ia tidak bisa fokus kuliah. Ia tidak bisa konsentrasi membaca dan hanya menangis. Ia bercerita kepada sang suami dan sekali lagi ia tidak pernah menyalahkan Intan. Sang suami sangat yakin bahwa Intan bisa menjalankan peran ganda itu. Setelah pikirannya tenang, ia pun meyakinkan diri bahwa ia bisa dan ia tidak akan menelantarkan keluarganya. Ia juga akan mempertanggungjawabkan keputusannya untuk melanjutkan studi. Dalam kondisi seperti inilah ia merasakan bahwa dukungan dari anggota keluarga sangatlah penting.

Saat ia merasa tidak mampu, ia akan kembali mengingat tujuan dan   komitmennya dalam menjalankan peran ganda. Keluarganya adalah faktor yang membuat Intan selalu berusaha lebih keras lagi agar ia bisa menjalani semuanya dengan baik. Ketika pikirannya sedang tidak tenang, ia biasanya menangis. Namun ia tidak ingin terlarut terlalu lama dalam kesedihannya. Ia akan melupakan sejenak masalahnya, beristirahat sambil menonton CSI serial favoritnya, atau membeli makanan yang banyak dan makan sendirian. Jika sang suami tahu bahwa ia sedang “down” maka ia akan memberikan sesuatu yang disukai oleh Intan. Terkadang ia meminta sang suami untuk berlibur agar ia bisa melupakan sejenak semua masalahnya. Ia juga selalu berdoa untuk mampu melewati semuanya dengan baik.

Target Intan berikutnya adalah menyelesaikan proposal penelitiannya dan juga kegiatan penelitian dalam dua tahun ke depan. Ia ingin menjadi guru bagi ketiga anaknya karena ia tidak ingin mereka les di luar jam pelajaran. Banyak hal yang ingin ia lakukan bersama buah hatinya. Sebentar lagi mereka akan memasuki tahap remaja dan Intan harus memberikan bekal pengetahuan yang cukup agar mereka tidak terbawa arus negative. Ia sangat khawatir jika melihat perkembangan teknologi jaman sekarang dan kebanyakan merusak jiwa anak. Ia pun berpendapat bahwa disitulah orangtua harus berperan, ikut mengawasi dan oleh karena itu ia harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mereka.

Intan pun berbagi tips kepada para ibu lainnya yang ingin menjalani aktivitas tambahan di luar kegiatan merawat keluarga.

Jika ibu ingin menjalani sesuatu maka ibu harus berkomitmen. Di saat kita menemui kesulitan dan terpuruk maka ingatlah komitmen yang sudah dibuat. Ingat pada orang yang telah memberikan dukungan dan ingatlah Tuhan, agar kita bisa bangkit kembali menyelesaikan urusan yang belum selesai.

Untuk para ibu yang sibuk bekerja di luar sana, ingatlah tugas utama kita sebagai ibu. Jangan sampai kesuksesan kita dalam berkarir melupakan tugas utama kita sebagai orangtua.

(Tim Ibu)

Share this:

Menu Title