Baru-baru ini di media sosial, muncul cerita tentang seorang perempuan yang depresi karena tidak bisa menyusui. Dan cerita ini bermunculan, tidak hanya satu, dua, tapi cukup banyak di sekeliling saya. Teman-teman perempuan di media sosial pun berkomentar bahwa rasa tertekan itu benar adanya dan yang memperburuk adalah orang di sekitar dengan penghakiman-penghakiman yang tidak memperhatikan kondisi si ibu.

Dulu, saya bertanya-tanya. Apakah rasa tertekan dan depresi itu benar muncul ketika paska melahirkan (post-partum depression)? apakah bisa dikontrol?. Saya bukan dokter atau psikiater, saya perempuan yang merasakan rasa tertekan paska melahirkan.

Saya menulis ini untuk berbagi bahwa rasa tertekan itu tidak perlu diingkari. Dengan harapan bahwa perempuan-perempuan yang mengalami hal ini, tak perlu malu untuk mengakui. Dan orang-orang di sekitarnya pun sadar bahwa hal ini adalah nyata dan terjadi. Pengalaman setiap perempuan berbeda-beda, tak perlu menghakimi satu sama lain.

Saya sebelum pindah ke Tokyo, adalah pekerja (dengan pekerjaan yang saya cintai) di Jakarta, setiap hari selalu berpindah tempat dan semuanya menjadi berubah ketika saya hamil dan harus pindah ke Tokyo, sebuah kota dengan bahasa dan budaya yang berbeda.

Paska melahirkan di Tokyo dengan kesenjangan bahasa dan kebiasaan. Pikiran-pikiran saya dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran. Jika anda bertanya dari mana datangnya? saya tidak tahu. Ruang-ruang negatif dalam otak saya seakan tumbuh 100% lebih kuat daripada yang saya bayangkan. Dan tidak terkontrol.

Mulai dari soal kebersihan, tadinya saya orang yang santai. Paska melahirkan, saya takut sekali dengan kuman. Saat mandi, saya berusaha sabun tidak mengenai payudara, khawatir bayi saya terkena zat kimia sabun. Mungkin anda menganggap ini berlebihan, tapi perasaan itu datang begitu saja.

Tadinya saya orang suka bersosialisasi dan suka mengeksplorasi tempat baru. Paska melahirkan? saya tidak membuka media sosial dan tidak membacanya. Saya hanya membaca babycenter dan sharing di Path (itupun teman saya cuma 20-an orang), dan saya hanya berkomunikasi melalui WhatsApp. Jalan-jalan? sampai usia bayi saya 4 bulan, saya tidak tertarik berpergian. Ke luar rumah hanya untuk urusan vaksin dan bayi. Saya tidak punya ketertarikan untuk melihat dunia luar.

Hubungan dengan pasangan? dalam usia pernikahan ke-7, adalah titik terendah dalam relasi dengan pasangan. Segala macam pikiran buruk muncul begitu saja, saya tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan pasangan selama beberapa bulan. Iya, rasa marah dan kecewa karena merasa pasangan adalah penyebab semua hal yang saya rasakan.

Saya membaca dan mengenali perasaan tertekan paska melahirkan, beruntung karena saya pernah membaca bagian pengalaman dari paska melahirkan yang tidak pernah diceritakan banyak orang, paska melahirkan. Rasa senang dan bahagia melihat bayi, bersamaan itu perasaan tidak aman, tidak nyaman dan keterpurukan.

Dari pengalaman saya, memang sebaiknya ibu/perempuan beserta pasangannya membaca bagian ‘gelap’ paska melahirkan, sehingga tidak merasa kaget ketika mengalaminya. Saya sendiri, paska melahirkan, sengaja menutup diri ruang-ruang informasi berlebihan. Menjauhi media sosial (pada saat saya mengalami perasaan tertekan saat melahirkan-saya punya satu akun media sosial yang isinya hanya teman terdekat). Saya tidak membaca buku, karena bisa jadi pemicu pikiran negatif yang muncul. Soal pemicu, saya rasa setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda.

Teman-teman saya yang bertanya, kapan saya menulis lagi? apakah kamu bekerja kembali? adalah rasa tertekan paska melahirkan yang saya rasakan. Mereka tidak bersalah, karena mereka tidak tahu saya sedang berjuang menghadapi diri saya sendiri.

Bertemu dengan konselor, saya pikir adalah hal yang penting ketika anda mengenali diri anda mengalami rasa tertekan. Saya sendiri, tidak bertemu dengan konselor. Saya dan pasangan berusaha untuk ‘menyelesaikan’ fase ini bersama.

Saya merasa topik ini penting, mungkin dari banyak ibu/perempuan di luar sekeliling saya mengalaminya dan enggan mengakuinya, karena label superwomen dan lain sebagainya. Saya sendiri mengakui kalau saya bukan bagian yang super itu, dan mengakui bahwa pernah mengalami perasaan tertekan paska melahirkan. Dan iya, fase tersebut adalah fase yang cukup berat.

Fase ini bisa terlewati dengan baik atau bahkan bisa menjadi lebih buruk.  Dukungan dari pasangan, keluarga atau lingkungan sekitar, menjadi penting. Bahwa post-partum depression atau perasaan tertekan paska melahirkan (saya menggunakan term yang terakhir) itu nyata ada dan bukan perasaan ‘lebay’ atau berlebihan yang dirasakan. Lingkungan sekitar tentu saja berperan dalam penyelesaian ‘perasaan tertekan’ ini. Bisa dimulai dari tidak menghakimi dan memberi dukungan untuk ibu/ perempuan paska melahirkan.

Kontributor:

Sofia Kartika, pernah bekerja sebagai konsultan Gender Mainstreaming di Jakarta, sekarang tinggal di Tokyo.

sofia

Share this:
Menu Title